Imunisasi Difteri, Manfaat dan Efek Sampingnya

Banyak oaring tua yang masih tidak terlalu mengtahui tentang imunisasi difteri, padahal imunisasi tambahan ini juga sangat perlu dilakukan untuk mencegah penyakit difteri.
 
imunisasi difteri
 
Apa itu penyakit difteri?Difteri adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri tersebut menghasilkan toksin yang nantinya dapat meluas ke seluruh tubuh. Toksin bakteri tersebut dapat menyebabkan tejadinya kerusakan jaringan setempat dan menyebabkan terjadinya suatu selaput yang dapat menyumbat jalan napas. Selain itu, toksin tersebut juga dapat beredar di dalam aliran darah dan mengakibatkan berbagai macam komplikasi lainnya seperti miokarditis (radang pada salah satu lapisan jantung) serta kelainan darah seperti trombositopenia (penurunan jumlah trombosit).
 
Gejala dan tanda difteri di antaranya adalah demam (suhu tubuh sekitar 38 derajat Celsius), munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan mudah berdarah jika dilepaskan, serta sakit ketika menelan. Gejala tersebut dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. Selain itu, dapat ditemukan anak mengalami sesak napas disertai dengan suara mengorok.
 
Penyakit ini dapat ditularkan melalui percikan cairan dari saluran pernapasan atau kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernapasan misalnya ketika seseorang bersin atau batuk. Penularan lewat luka terbuka di kulit juga dapat terjadi, namun lebih jarang ditemui.
 
Kenapa wajib imunisasi?
Anda mungkin masih ragu untuk mendapatkan imunisasi difteri. Padahal, difteri adalah salah satu jenis penyakit yang dapat dicegah dan dikendalikan. Caranya yaitu dengan mendapatkan vaksin (imunisasi) difteri.
 
Selain meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap difteri, imunisasi juga mampu mencegah penyebaran penyakit ini lebih lanjut. Karena itu, penting bagi setiap anak untuk mendapatkan imunisasi difteri.
 
Jangan khawatir, imunisasi ini sudah dinyatakan aman bagi anak-anak dan orang dewasa. Efek samping sangat jarang terjadi, dan biasanya bersifat ringan misalnya demam. Ini wajar karena tubuh akan bereaksi terhadap vaksin yang diberikan.
 
Bagaimana cara imunisasi difteri dilakukan?
Imunisasi difteri diberikan melalui cara disuntikan. Pemberian imunisasi ini disarankan sejak bayi. Imunisasi DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis) merupakan imunisasi yang diberikan pada bayi sebanyak tiga kali yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Selain itu, dilakukan imunisasi ulangan berupa booster sebanyak 2 kali yaitu pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
 
Pemerintah juga menyarankan pemberian imunisasi bagi anak Sekolah Dasar (SD) melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Anak sekolah dasar atau sederajat kelas 1 wajib mendapatkan satu kali imunisasi DT sedangkan anak sekolah dasar atau sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td. Selanjutnya, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk bagi orang dewasa.
 
Namun orang tua juga harus memperhatikan kondisi anak sebelum melakukan imunisasi difteri. Jika anak Anda mengalami sakit parah pada saat tiba jadwal imunisasi, maka sebaiknya tunggu hingga keadaan anak membaik baru dilakukan imunisasi.
 
Jangan berikan imunisasi lanjutan jika anak Anda mengalami:
 
•    Gangguan pada sistem saraf atau otak, dalam waktu 7 hari setelah mendapatkan suntikan imunisasi.
•    Reaksi alergi berat yang dapat mengancam nyawa, setelah anak mendapatkan imunisasi.
Segera periksakan ke dokter bila setelah imunisasi, anak Anda mengalami:
•    Demam di atas 40 derajat Celcius.
•    Anak tidak berhenti menangis setidaknya selama 3 jam.
•    Anak mengalami kejang atau pingsan.
 
Efek samping dari imunisasi DPT yang dapat muncul, antara lain:
•    Demam ringan
•    Bengkak pada bagian suntikan
•    Kulit pada bagian suntikan menjadi merah dan sakit
•    Anak terlihat lelah
•    Anak menjadi rewel
 
Dengan memberikan imunisasi yang lengkap pada anak maka Anda telah memberikan perlindungan kepada anak terhadap beberapa penyakit berbahaya. Ingat baik-baik kapan jadwal imunisasi anak Anda dan konsultasikan kepada dokter jika anak Anda menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan setelah pemberian imunisasi.

Posting Komentar

0 Komentar